Home » » Massa bersenjatakan pisau menghancurkan Masjid di Utara Myanmar

Massa bersenjatakan pisau menghancurkan Masjid di Utara Myanmar

Written By canang on Ahad, 3 Julai 2016 | 7/03/2016 10:36:00 PTG

Human Rights Watch menyerukan pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi komunitas Muslim di Myanmar.
YANGON, Myanmar
Sekumpulan Massa liar telah membakar sebuah masjid di utara Myanmar sampai rata dengan tanah setelah Muslim setempat menolak untuk mematuhi perintah pembongkaran oleh kelompok nasionalis.
Insiden ini merupakan serangan kedua dalam satu bulan terakhir, menyebabkan seruan dari kelompok hak asasi manusia agar pemerintah Myanmar melakukan tindakan untuk melindungi masyarakat Muslim di negara itu.
Koran Global New Light of Myanmar melaporkan Sabtu bahwa massa berjumlah 500 orang “memegang tongkat, pisau dan senjata lainnya” – menuju bangunan di Negara Bagian Kachin sekitar pukul 15:30 Jumat (09.30GMT), setelah kelompok garis keras menyerukan provokasi anti-Muslim.
“Sekitar 150 orang secara paksa memasuki kompleks masjid, menyerbu bangunan, dan menduduki masjid,” kata seorang polisi setempat kepada Anadolu Agency melalui telepon Jumat malam.
“Setelah mereka masuk, kepala polisi memutuskan untuk tidak menghentikan mereka karena [hanya] ada sekitar 50 petugas polisi yang hadir.”
Sumber meminta untuk tidak disebutkan namanya karena ia tidak berwenang berbicara kepada media lokal.
Pada tanggal 17 Juni, anggota lokal dari organisasi nasionalis Buddha Ma Ba Tha menuduh warga Muslim di Le Pyin membangun masjid ilegal selama dua tahun konstruksi di dekat jembatan, dan mengancam untuk menghancurkannya kecuali pemiliknya merobohkannya sebelum 30 Juni.
Global New Light of Myanmar melaporkan bahwa pihak berwenang setempat telah memberi perintah pembongkaran setelah negosiasi dengan pemilik masjid gagal, mengatakan struktur di kompleks masjid tidak mematuhi aturan dan peraturan setempat.
Pada hari Kamis, ketua panitia pengurus masjid mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa perintah pihak berwenang tidak mengacu kepada masjid, tetapi bangunan lain di kompleks tersebut.
“Dua bangunan baru dibangun oleh perusahaan konstruksi di kompleks masjid selama pembangunan jembatan – satu untuk penyimpanan bahan bangunan dan [lainnya] untuk digunakan oleh pekerja konstruksi – dan perusahaan menyumbangkan bangunan itu ke masjid setelahnya,” Thein Aung mengatakan dalam sebuah wawancara telepon.
Dia mengatakan bahwa di bawah tekanan dari nasionalis, Muslim lokal hanya memiliki sedikit pilihan selain meruntuhkan dua bangunan baru pada 19 Juni, bersama dengan sebuah rumah yang digunakan oleh imam masjid, yang sudah berdiri di lokasi selama beberapa dekade.
“Kami tidak ingin ada masalah. Oleh karena itu kami memutuskan untuk melakukannya, “ia menggarisbawahi.
Namun, Nasionalis Ma Ba Tha kemudian mengeluarkan ultimatum pada 20 Juni memerintahkan bahwa masjid juga akan dibongkar pada akhir Juni.
“Ini benar-benar tidak dapat diterima. masjid sudah ada sejak tahun 1988, “kata Thein Aung.
” Kita tidak bisa melakukan itu, kami menjawab. ”
Media pemerintah melaporkan Sabtu bahwa langkah-langkah telah diambil untuk menekan kelompok yang terlibat dalam serangan itu, namun polisi belum mengidentifikasi satupun tersangka.
Pada hari Jumat, Pelapor Khusus PBB tentang Myanmar, Yanghee Lee, menyatakan keprihatinan yang mendalam kepada wartawan atas meningkatnya serangan anti-Muslim di Myanmar, pada akhir 12-hari perjalanan ke wilayah tersebut.
“Apakah disengaja atau tidak, kejadian itu dapat dilihat sebagai serangan terhadap masa lalu, sekarang dan masa depan dari satu komunitas,” kata Lee mengacu pada serangan di sebuah masjid dan bangunan keagamaan di sebuah desa di wilayah Bago selatan pekan lalu yang menyebabkan seorang pria Muslim terluka.
Polisi belum melakukan penangkapan setelah massa menghancurkan masjid, sekolah, tempat tinggal Muslim dan konstruksi bangunan pada 23 Juni, dimana penduduk desa telah dituduh mendirikan sekolah agama ilegal.
Insiden tersebut telah memunculkan kembali kekhawatiran akan terulangnya kekerasan 2012, ketika ketegangan komunal antara umat Buddha dan Muslim di Barat Negara Rakhine menewaskan 200 orang dan ribuan orang lainnya mengungsi.
Pada hari Jumat, Lee mendesak pemerintah negara itu untuk menunjukkan bahwa menghasut dan melakukan kekerasan terhadap komunitas etnis atau agama minoritas tidak memiliki tempat di negara ini.
“Oleh karena itu saya prihatin dengan laporan bahwa Pemerintah tidak melakukan tindakan dalam kasus terbaru karena kekhawatiran eskalasi ketegangan yang lebih besar dan memprovokasi lebih banyak konflik,” katanya.
“Inilah sinyal yang salah kirim.”
Pada hari Sabtu, Human Rights Watch menuduh Liga Nasional untuk Pemeritah Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi tidak melakukan cukup tindakan untuk mencegah insiden tersebut.
“Ada banyak waktu untuk campur tangan yang tegas untuk mencegahnya, tapi pemerintah hanya duduk berpangku tangan dan membiarkan hal itu terjadi,” kata Deputi Direktur Asia Phil Robertson kepada Anadolu Agency melalui email.
“Aksi massa ini menunjukkan konsekuensi yang sangat nyata dari kegagalan pemerintah untuk membatasi nasionalis Buddha garis keras yang bertekad menggunakan kekerasan untuk mengusir Muslim dari komunitas mereka … ini waktunya pemerintah pimpinan NLD untuk bertindak.”
retorika anti-Muslim dari Ma Ba Tha – Organisasi Perlindungan dari Ras dan Agama – telah dilihat sebagai kesengajaan untuk memicu api kebencian agama terhadap umat Islam di negara itu, dengan anggota terkemuka Wirathu – seorang biksu nasionalis – yang menyalahkan umat Muslim atas konflik komunal, dan menuduh mereka mencoba untuk mengIslamkan negara berpenduduk 57 juta orang.
Ma Ba Tha baru-baru ini mengadakan protes untuk menuntut Aung San Suu Kyi dengan Liga Nasional baru untuk pemerintah Demokrasi supaya menerapkan kebijakan keras terhadap minoritas di negara itu, yaitu Rohingya Muslim, dan agar kedutaan asing tidak menggunakan istilah “Rohingya” untuk merujuk pada etnis Muslim, tetapi menggambarkan mereka sebagai ” Bengali “, yang menunjukkan mereka sebagai penyusup dari negara tetangga Bangladesh.
Anadolu Agency
Share this article :

Tiada ulasan:

Blogger Widget Get This Widget

comment pembaca

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Cananglahnie - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger